Mencari Nur-Nya


Anai-anai(semacam lelatu,semut bersayap,laron dlm bahasa jawa):”berilah aku
izin mendekatimu hai lampu,aku ingin cahayamu yg terang benderang itu “. ” sia-sia…semata-mata sia-sia permintaanmu. sebab keinginanmu itu mesti bertemu dgn bahaya” jawab lampu. ” Bahaya apakah gerangan itu,tuan hamba? “. ” Di dlm perjalanan engkau akan brtemu dgn burung-burung layang,engkau di jadikan mangsanya “. ” Itu bukan bahaya tuanku,itu adalah keberuntungan,mati dalam menempuh cita-cita “. ” Mengapa tuan katakan sia-sia orang yg mencintai cahaya tuan? “. ” Tidakkah kau lihat,bangsamu telah tersungkur, mati bertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku? “. ” Itu bukan sia-sia,ya tuanku.itu adalah keberuntungan.kami datang dari tempat jauh- jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. kami datang kedekatmu,berkeliling mencari cahaya.biarlah kami mati lantaran panasnya cahaya itu,bagi kami kematian itulah kelezatan “. ” Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yg tertimbun itu ?” ” Biarlah bangkai bertimbun,ya tuanku.bertimbun dan mati di bawah naunganmu.kami cari cahaya, setelah maksud kami brhasil,biarlah kematian datang,asalkan kami di ridhokan datang “. Maka bertimbunlah bangkai,sedang yg datang masih banyak,dan yg akan datang,masih dalam perjalanan.

*syair dari seorang sufi,memisalkan keinginan seorang Mu’min mencari Nur Tuhannya.tasauf modern-Buya Hamka

mencari bahagia


“Carilah bahagia di dlm
rimba dan belukar,di lembah
dan di bukit”,di kebun dan di
kayu”,di daun yg hijau dan
bunga yg mekar,di danau
dan sungai yg
mengalir.carilah bahagia
pada sang surya yg terbit
pagi dan terbenam
sore,pada awan yg sedang
berarak dan sedang
brkumpul,pada burung” yg
sedang hinggap dan sedang
terbang,pada bintang” yg
sedang brkelap-kelip,dan yg
tetap di tempat nya.carilah
bahagia di kebun bunga di
dekat rumah mu,di bandar
yg baru di buat,di barisan
tanaman yg baru di
atur.carilah di pinggir sungai
sambil termenung,di
puncak” bukit yg di daki dgn
payah,ke dlm lembah yg di
turuni.carilah ketika
mendengarkan aliran air
tengah malam,pada bunyi
angin sepoi” basah,pada
prsentuhan daun kayu
ketika hendak lurut,pada
bunyi jangkrik tengah
malam,dan bunyi katak di
tengah sawah.dalam semua
yg saya sebutkan itu
trsimpanlah bahagia yg
sejati,yg
indah,mulia,murni,sakti; yg
menyuruh faham
menjalar,menyuruh
perasaan menjalar ke dlm
keindahan,menghidupkan
hati yg telah
mati,mendatangkan
ketentraman yg sejati di
dalam lapangan hayat “.

Said musthafa lutfhi Al-
Manfaluthi,dalam bukunya majdulin.

Romantisme papandayan,juli 2011


10 juli kalian berjanji menjalani hidup sehidup semati.
meniti hari yang pasti menyemai butir-butir cinta di bawah ridho ilahi.
kalian yang telah terikrar dalam ikatan halal, bukan halal fatwa MUI , tapi halal dari yang Maha Hakiki.

Gunung papandayan menjadi saksi,di belerang kawah abadi cinta kalian terpatri.
Bunga edelweis semoga membuat kalian harmonis.
Death forest menjadi lambang bahwa kegersangan bisa di isi oase saling berbagi.
Berbagi dalam suka ataupun duka,menyemai hari saling mengisi.

Jalani hidup dengan sederhana,sesederhana alam,searif gunung,seindah lembah,sekokoh tebing batu diatas camp david dan seindah tegal alun yg selamanya mengalun tembang keindahan akan alam ciptaan Tuhan.

Didedikasikan untuk sang ketua shanekala Sendi a.l & Ratih julianti,ponakanku.
Semoga menjadi keluarga sakinah,mawahdah,warohmah dan keluarga pencinta alam sejati. Aamiin

puisi terakhir soe hoek gie


Ada orang yang menghabiskan waktunya
berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi
di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu
sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan
lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah
mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena
bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun
tahu
Mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan
simpati padaku
Tegaklah ke langit yang luas atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung
Semeru pada Bulan Desember 1969

Sampaikanlah


sampaikanlah pada ibuku
aku pulang terlambat waktu
ku akan menaklukkan malam
dengan jalan pikiranku
sampaikanlah pada bapakku
aku mencari jalan atas
semua keresahan-keresahan ini
kegelisahan manusia
retaplah malam yg dingin
reff: tak pernah berhenti
berjuang
pecahkan teka-teki malam
tak pernah berhenti berjuang
pecahkan teka-teki keadilan
berbagi waktu dengan alam
kau akan tahu siapa dirimu yang
sebenarnya
hakikat manusia
repeat reff
keadilan, keadilan
akan aku telusuri
jalan yg setapak ini
semoga kutemukan jawaban
repeat [3x]
jawaban, jawaban, jawaban, oh
o

eross feat. Okta ost.gie