saatnya untuk pulang-El Jalaluddin Rumy


Malam larut,malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang
kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajahi rumah-rumah kosong

aku tahu:teramat menggoda untuk tinggal saja & bertemu orang-orang baik ini.

aku tahu:bahkan lebih pantas untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup Destinasi indah dengan isyarat dalam ucap mereka inilah rumah Tuhan.
Melihat butir padi seperti perangai semut,tanpa ingin memanennya.
Biar tinggalkan saja sapi menggembala sendiri & kita pergi.

Kesana:ketempat semua orang sungguh menuju

kesana:ketempat kita leluasa melangkah telanjang.

januari


Januari,
benarkah bulan kenangan penuh memory?,
bagiku tak ada yang special di bulan ini tapi bagi sebagian orang mungkin berbeda.
Seperti lagunya gigi 11 januari,Iwan fals dengan 22 januari nya atau mau yang lebih melow 🙂 boleh juga lagunya Glenn fredly
berakhir di januari.

11 januari sama sekali tak menjalani kisah,hanya menjalani hari-hari dengan rutinitas de javu.tak ada keluhan semoga selamanya bersyukur dengan segala kesederhanaan.
22 januari aku pun tidak berteman dengan iblis,hanya berteman sepi berteman dengan keyakinan akan Eksistensi-Nya merenungi hari mencoba merajut mimpi dan semoga lekas terealisasi.
Dan semoga Berakhir di januari semua kebebalan,keburukan dan hal terlarang yang masih terlampau sering ku lakukan.

Tetap percaya akan yang pasti yaitu eksistenti Tuhan,kematian dan hari kemudian(Beranda kita,ketika harus memilih)
Dan yakinlah akan kesuksesan karena menguasai diri sendiri adalah kemenangan terbesar(pepatah Italy)

posting via opera mini 6.1
segelas kopi sebatang rokok segurat catatan yang tersimpan di sudut ruang menunggu malam untuk panjangnya malam(Iwan fals)