Tekunilah propesi anda

Ke samping


pendaki+gunung
Penulis : Jamil Azzaini
Saya pernah mendapat kiriman sebuah cerita
yang akan saya ceritakan kembali. Ada seorang
pemecah batu yang tinggal di suatu desa. Suatu
saat, ia melihat seorang konglomerat. Iri dengan
kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi
seorang konglomerat. Ketika ia sedang bepergian
dengan mobil mewahnya, ternyata ia harus
memberi jalan kepada seorang pejabat yang
sedang lewat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-
tiba ia berubah menjadi seorang pejabat.
Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan
panas terik matahari yang luar biasa. Iri dengan
kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi
matahari. Namun Ketika sang matahari sedang
bersinar terang, tiba-tiba sebuah awan hitam
menyelimutinya. Iri dengan selubung awan, tiba-
tiba ia berubah menjadi awan. Dan ketika awan itu
sedang berarak di langit, angin menyapunya.
Awan itupun iri dengan kekuatan angin, tiba-tiba
iapun berubah menjadi angin.
Ketika angin itu sedang berhembus, ia tak kuasa
menembus kokohnya gunung. Iri dengan
kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi
gunung. Ketika gunung sedang berdiri kokoh, ia
melihat ada seseorang yang memecahnya. Iri
dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai
pemecah batu. Ternyata itu semua hanya mimpi
si pemecah batu.
***
Dalam hidup, kita semua saling terkait dan saling
tergantung, tidak ada yang betul-betul lebih tinggi
atau lebih rendah. Kehidupan ini akan baik-baik
saja dan bisa Anda nikmati sampai Anda mulai
membanding-bandingkan. Anda tidak akan
mampu menikmati hidup bila Anda selalu melihat
bahwa “rumput di halaman tetangga lebih hijau”.
Syukuri apa yang sudah Anda tekuni. Jangan
pernah merasa iri dengan profesi orang lain. Anda
hanya boleh iri pada dua hal saja. Pertama, iri
kepada orang kaya raya yang dermawan. Kedua,
iri kepada orang berilmu yang mengamalkan dan
mengajarkan ilmunya.

http://www.kotasantri.com

Iklan