saya tidak mau diajak hidup susah


Rubrik: Wanita | Oleh: Aisyah Darojati –
10/09/13 | 09:52 | 05 Dhul-Qadah 1434 H
dakwatuna.com – Suatu ketika, ada teman
saya yang mengeluhkan dalam
status Facebooknya, “Zaman sekarang, susah
cari perempuan yang mau diajak susah.”
Ego saya sontak berontak, saya menjawab
dalam hati, “Masa sih? Saya enggak kok.
Saya mau aja diajak hidup susah.”
Namun jari jemari ini tertahan untuk
membalas status tersebut. Saya hanya
menyimak, hingga muncul sebuah komentar
dari temannya yang menarik perhatian saya.
“Memang, definisi dari ’susah’ itu apa?”
Ya. Kalimat tersebut membuat saya menata
ulang opini saya.
Sebagian dari kita, termasuk saya ketika itu,
mengartikan ‘hidup susah’ di sini sebagai
hidup tanpa gelimangan harta.
Karena mainstream media saat ini juga
memang menggiring opini kita ke sana.
Padahal bukan begitu Islam mengajarkan kita.
Lantas, apa yang dimaksud ‘hidup susah’?
Masing-masing kita mempunyai pendapat
yang bisa jadi berbeda. Tapi izinkan saya
coba membagi pendapat saya – well, ini bukan
murni pendapat saya juga sih. Saya hanya
menyimpulkan dari beberapa literatur yang
saya baca, namun semoga ada manfaatnya.
Saya mempercayai bahwa tiap episode dalam
kehidupan kita adalah ujian untuk menguji
kadar keimanan kita. Kaya ataupun
miskinnya. Lapang ataupun sempitnya.
Banyak ataupun sedikitnya.
Saya kurang sepakat, apabila kita memandang
secara sebelah mata: Jika ia kaya, maka ia
senang | Jika ia miskin, ia hidup susah. Ini
bukan parameternya. Saya rasa tidak perlu
banyak pembahasan di sini. Tentunya kita
sudah sering mendengar dan melihat (atau
bahkan mengalami), banyak orang kaya yang
tidak bisa bersenang-senang menikmati
hartanya. Ia mempunyai banyak uang, tapi
sedikit kebahagiaan. Juga tidak sedikit orang
yang kasat mata terlihat miskin karena harta,
tapi kaya kebahagiaannya. Sekali lagi, ini
bukan parameternya.
Rasulullah SAW sebagai panutan kita pernah
mengalami kedua fase tersebut. Allah pernah
menitipkan padanya harta yang melimpah
ruah, dan pernah juga Allah menakdirkan
bahkan tidak ada asap mengebul dari dapur
rumah beliau saw. Saya rasa, bukan hal yang
mustahil bagi para perempuan untuk
meneladaninya: hidup penuh kesyukuran
dengan harta, atau hidup penuh kesabaran
tanpanya.
Saya mengartikan hidup susah di sini, dengan
tiada barakah dalam kehidupannya. Karena
menurut Ustadz Salim A. Fillah dalam
bukunya “Baarakallaahulaka, Bahagianya
Merayakan Cinta”,
Bahwa di saat apapun barakah itu membawa
kebahagiaan. Sebuah letup kegembiraan di
hati, kelapangan di dada, kejernihan di akal,
dan rasa nikmat di jasad. Barakah itu
memberi suasana lain dan mencurahkan
keceriaan musim semi, apapun masalah yang
sedang membadai rumah tangga kita.
Barakah itu membawakan senyum meski air
mata menitik-nitik. Barakah itu menyergapkan
rindu di tengah kejengkelan. Barakah itu
menyediakan rengkuhan dan belaian lembut di
saat dada kita sesak oleh masalah.
Dan apa itu barakah? Masih dalam buku yang
sama, beliau menjelaskan bahwa “Secara
sederhana, barakah adalah bertambahnya
kebaikan dalam setiap kejadian yang kita
alami waktu demi waktu.”
Saya membayangkan sebuah kehidupan, yang
terkandung barakah di dalamnya seperti yang
dijelaskan Ustadz Salim tadi. Maka saya tidak
dapat menemukan, di mana letak saya akan
merasa ‘hidup susah’ nantinya.
Ketika bisa jadi kami nanti hanya tinggal di
rumah petak, tapi justru karena itulah saya
bisa menemukan bayang rekan hidup saya
setiap saat, ke manapun saya menoleh. Atau
boleh jadi mungkin kami tinggal di rumah
megah nan luas yang bisa turut menampung
ratusan tuna wisma di dalamnya.
Ketika bisa jadi kami memiliki mobil pribadi
dan bisa mengantarkan sanak saudara ke
manapun mereka ingin pergi. Atau boleh jadi
kami harus berjalan kaki, namun itu adalah
kesempatan baik untuk menyusuri jalan
sambil menikmati senja, atau mendengarkan
celoteh burung di pagi hari.
Ketika bisa jadi kami mampu menghidangkan
ribuan porsi makanan lezat untuk dinikmati
bersama fakir miskin. Atau boleh jadi kami
hanya mampu membeli seporsi nasi, untuk
dimakan berdua sambil saling suap mesra.
Ketika bisa jadi rekan saya nanti diamanahi
pekerjaan yang menyita waktunya untuk
kepentingan orang banyak, dan saya memiliki
waktu lebih banyak untuk menyiapkan dengan
maksimal kebutuhannya beristirahat dengan
optimal di rumah. Atau boleh jadi ia hanya
bekerja seadanya, dan kami memiliki lebih
banyak waktu untuk dilalui bersama.
Dan masih banyak lagi. Namun intinya,
dengan barakah, saya tidak menemukan di
mana celah ada kehidupan yang bisa diartikan
susah.
Dan ketika saya membayangkan sebuah
kehidupan tanpa barakah di dalamnya, di
sanalah saya menemukan arti ‘hidup susah’
yang sebenarnya.
Saya akan merasa hidup susah ketika
kesempitan rumah masih ditambah dengan
kesempitan hati dan keleluasaan lisan untuk
terus mengeluh. Atau kelapangan rumah yang
justru membuat jarak hati penghuninya juga
semakin jauh.
Saya merasa susah ketika memiliki mobil
pribadi yang bagus dan mewah justru
membuat hati tidak karuan karena takut
tergores dan kehilangan. Atau tidak memiliki
kendaraan menjadi pembenaran atau alasan
untuk berhenti dari melakukan sebuah
kebaikan.
Saya merasa susah ketika kesanggupan
menghadirkan makanan berbanding lurus
dengan kemubadziran yang kami hasilkan.
Atau ketika hanya memiliki sedikit makanan
membuat kami lupa dengan pemberian Allah
yang masih banyak dalam bentuk lainnya.
Saya merasa susah ketika jam kerja yang
panjang justru membuat hati saya khawatir
dan curiga tentang apa yang sebenarnya
rekan saya lakukan. Atau ketika ia lama
berada di rumah, justru membuat pertikaian
yang terjadi di antara kami semakin banyak.
Masih banyak lagi. Namun intinya, saya
merasa susah, ketika Allah tak lagi
menghadirkan barakah dalam kehidupan
kami.
Sepanjang Allah menganugerahkan barakah
dalam hidup kita, atau setidaknya kita selalu
berusaha untuk menghadirkannya, sepanjang
itu pula saya berjanji untuk tidak akan
merasa susah.
Namun ketika Allah mencabut barakah itu dari
hidup kita, dan tidak ada lagi upaya dari kita
untuk memintanya kembali, saya akan merasa
susah.
Dan maaf, saya tidak mau diajak hidup susah.

http://www.dakwatuna.com/2013/09/10/39066/saya-tidak-mau-diajak-hidup-susah/#axzz2gCfp6EfN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s