#5


“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…
seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu
kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin
mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat
yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada…” (Kahlil Gibran)

Iklan

puisi cahaya bulan – soe hok gie

Ke samping


Akhirnya semuanya akan tiba pada suatu hari
yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu memintaku
minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah
kasih, lembah Mandalawangi
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap kau dekaplah lebih mesra,lebih
dekat
Apakah kau masih akan berkata
Kudengar derap jantungmu
Kita begitu berbeda dalam semua, kecuali dalam
cinta
Hari pun menjadi malam
Kulihat semuanya menjadi muram
Wajah wajah yang tak kita kenal berbicara
dalam bahasa yang kita tidak mengerti
Seperti kabut pagi itu
Soe Hok Gie

pesan


Hari ini aku lihat kembali
Wajah-wajah halus yang keras
Yang berbicara tentang kemerdekaaan
Dan demokrasi
Dan bercita-cita
Menggulingkan tiran
Aku mengenali mereka
yang tanpa tentara
mau berperang melawan diktator
dan yang tanpa uang
mau memberantas korupsi
Kawan-kawan
Kuberikan padamu cintaku
Dan maukah kau berjabat tangan
Selalu dalam hidup ini?

Soe hok gie
Harian Sinar Harapan 18Agustus 1973

copas dari puisi-puisi soe hok gie. gispala.wordpress.com

saatnya untuk pulang-El Jalaluddin Rumy


Malam larut,malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang
kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajahi rumah-rumah kosong

aku tahu:teramat menggoda untuk tinggal saja & bertemu orang-orang baik ini.

aku tahu:bahkan lebih pantas untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup Destinasi indah dengan isyarat dalam ucap mereka inilah rumah Tuhan.
Melihat butir padi seperti perangai semut,tanpa ingin memanennya.
Biar tinggalkan saja sapi menggembala sendiri & kita pergi.

Kesana:ketempat semua orang sungguh menuju

kesana:ketempat kita leluasa melangkah telanjang.

mencari bahagia


“Carilah bahagia di dlm
rimba dan belukar,di lembah
dan di bukit”,di kebun dan di
kayu”,di daun yg hijau dan
bunga yg mekar,di danau
dan sungai yg
mengalir.carilah bahagia
pada sang surya yg terbit
pagi dan terbenam
sore,pada awan yg sedang
berarak dan sedang
brkumpul,pada burung” yg
sedang hinggap dan sedang
terbang,pada bintang” yg
sedang brkelap-kelip,dan yg
tetap di tempat nya.carilah
bahagia di kebun bunga di
dekat rumah mu,di bandar
yg baru di buat,di barisan
tanaman yg baru di
atur.carilah di pinggir sungai
sambil termenung,di
puncak” bukit yg di daki dgn
payah,ke dlm lembah yg di
turuni.carilah ketika
mendengarkan aliran air
tengah malam,pada bunyi
angin sepoi” basah,pada
prsentuhan daun kayu
ketika hendak lurut,pada
bunyi jangkrik tengah
malam,dan bunyi katak di
tengah sawah.dalam semua
yg saya sebutkan itu
trsimpanlah bahagia yg
sejati,yg
indah,mulia,murni,sakti; yg
menyuruh faham
menjalar,menyuruh
perasaan menjalar ke dlm
keindahan,menghidupkan
hati yg telah
mati,mendatangkan
ketentraman yg sejati di
dalam lapangan hayat “.

Said musthafa lutfhi Al-
Manfaluthi,dalam bukunya majdulin.

puisi terakhir soe hoek gie


Ada orang yang menghabiskan waktunya
berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi
di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu
sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan
lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah
mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena
bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun
tahu
Mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan
simpati padaku
Tegaklah ke langit yang luas atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung
Semeru pada Bulan Desember 1969