cinta itu…



Penulis : Ila Rizky Nidiana

Cinta itu ketika aku berani memilihmu dan mengambil keputusan, “The past is yours, The future is us!” Masa lalumu, itu masa lalumu. Masa laluku, itu masa laluku. Tetapi masa depan, itulah kita. Love you like there’s no tomorrow.
Baca lebih lanjut

Iklan

saatnya untuk pulang-El Jalaluddin Rumy


Malam larut,malam memulai hujan
inilah saatnya untuk kembali pulang
kita sudah cukup jauh mengembara
menjelajahi rumah-rumah kosong

aku tahu:teramat menggoda untuk tinggal saja & bertemu orang-orang baik ini.

aku tahu:bahkan lebih pantas untuk menuntaskan malam di sini bersama mereka,tapi aku hanya ingin kembali pulang.

Sudah kita lihat cukup Destinasi indah dengan isyarat dalam ucap mereka inilah rumah Tuhan.
Melihat butir padi seperti perangai semut,tanpa ingin memanennya.
Biar tinggalkan saja sapi menggembala sendiri & kita pergi.

Kesana:ketempat semua orang sungguh menuju

kesana:ketempat kita leluasa melangkah telanjang.

puisi terakhir soe hoek gie


Ada orang yang menghabiskan waktunya
berziarah ke Mekah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi
di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu
sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan
lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah
mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena
bom di danau
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu manisku
Setelah kita bosan hidup dan bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun
tahu
Mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan
simpati padaku
Tegaklah ke langit yang luas atau awan mendung
Kita tak pernah menanamkan apa-apa
Kita takkan pernah kehilangan apa-apa
Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan
Yang kedua dilahirkan tapi mati muda
Dan yang tersial adalah berumur tua
Berbahagialah mereka yang mati muda
Makhluk kecil kembalilah dari tiada ke tiada
Berbahagialah dalam ketiadaanmu

Soe Hok Gie meninggal di Puncak Gunung
Semeru pada Bulan Desember 1969

mandalawangi-pangrango


Senja ini, ketika matahari turun kedalam
jurang-jurangmu
aku datang kembali
kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam
dinginmu
walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat
dan guna
aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
dan aku terima kau dalam keberadaanmu
seperti kau terima daku
aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan
sepi
sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang
tiada
hutanmu adalah misteri segala
cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti
Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang
tanda tanya “tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa
menawar
‘terimalah dan hadapilah
dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang
membara
aku terima ini semua
melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
aku cinta padamu Pangrango
karena aku cinta pada keberanian hidup

soe hoek gie
Jakarta 19-7-1966

cahaya bulan


Puisi (Cahaya Bulan) – Nicholas Saputra

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yg
biasa
pada suatu ketika yg telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu memintaku
minum susu dan tidur yg lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku
kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri melihat hutan” yg
menjadi suram
meresapi belaian angin yg menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakau kau masih akan berkata
kudengar detak jantungmu
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta

cahaya bulan menusukku dengan ribuan
pertanyaan
yg takkan pernah aku tahu dimana jawaban itu
bagai letusan berapi bangunkan dari mimpi
sudah waktunya berdiri mencari jawaban
kegelisahan hati

ost.gie